Senin, 01 Februari 2010

Bidadari Surga ... (Siapa Yang Tidak Rindu?)

Allah telah memberikan sifat-sifat terindah kepada bidadari-bidadari surga. Mereka diberi pakaian yang paling bagus dan siapapun yang membicarakan diri mereka pasti akan digelitik kerinduan kepada mereka, seakan-akan dia sudah melihat secara langsung bidadari-bidadari itu.

Ath-Thabarany menuturkan, kami diberi tahu Bakr bin Sahl Ad-Dimyaty, kami diberitahu Amru bin Hisyam Al-Biruny, kami diberitahu Sulaiman bin Abu Karimah, dari Hisyam bin Hassan, dari Al-Hassan, dari ibunya, dari Ummu Salamah Radhiallahuanha, dia berkata, "Saya berkata, 'Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli'."

Beliau menjawab, "Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar."

Saya berkata lagi, "Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku tentang firman Allah, 'Laksana mutiara yang tersimpan baik'."(Al-Waqi'ah:23)

Beliau menjawab, "Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia."

Saya berkata lagi, "Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, 'Di dalam surga-surga ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik'." (Ar-Rahman :70)

Beliau menjawab, "Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita."

Saya berkata lagi, "Jelaskan padaku firman Allah, "seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik'." (Ash-Shafat:49)

Beliau menjawab, "Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur."

Saya berkata lagi, "Wahai Rasulullah, jelaskan padaku firman Allah, 'Penuh cinta lagi sebaya umurnya'." (Al-Waqi'ah :37)

Beliau menjawab, "Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya."

Saya bertanya, "Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?"

Beliau menjawab, "Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari bermata jeli, seperti apa yang tampak daripada yang tidak tampak."

Saya bertanya, "Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?"

Beliau menjawab, "Karena shalat mereka, puasa mereka dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya kulit bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kunigan, sanggulnya mutiara dan sisinya terbuat dari emas. Mereka berkata, Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya'."

Saya berkata, "Wahai Rasulullah, salah seorang wanita diantar kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu dia meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka masuk surgapula. Siapakah diantara laki-laki itu yang menjadi suaminya di surga?"

Beliau menjawab, "Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih siapa diantara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata, 'Wahai Rabbku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya'. Wahai ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat."


(disebutkan dalam catatan kaki buku Raudhatul Muhibbin (terbitan darul falah), halaman 201 :"Pengarang (Ibnul Qoyyim) menyebutkan hadits ini di dalam bukunya Hadil Arwah. Di sana dia memberi catatan : Sulaiman bin Abu Karamah menyendiri dalam riwayat ini. Abu Hatim menganggapnya dha'if. Menurut Ibnu Ady, mayoritas hadits-haditsnya adalah mungkar dan saya tidak melihat orang-orang dahulu membicarakannya. Kemudian dia menyebutkan hadits ini dari jalannya seraya berkata, "Hanya sanad inilah yang diketahui..")


sumber : milis daarut tauhid at yahoo dot com

Al Khabir - Yang Maha Mengetahui Oleh : KH Abdullah Gymnastiar


Bismillaahirrahmanirrahiim,

Wahai anakku, sesungguhnya kalau ada satu butir biji sawi yang tersembunyi di dalam batu atau di langit atau di bumi, maka Allah mengetahuinya. Sungguh Allah itu Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. Luqman : 16).

Allah SWT mempunyai nama indah Al-Khabir. Kha, ba dan ra, itulah huruf-huruf penyusunnya. Kata yang tersusun dari huruf-huruf tersebut berkisar maknanya pada dua hal, yaitu pengetahuan dan kelemah-lembutan. Khabir biasanya digunakan untuk menunjukan pengetahuan yang dalam dan sangat rinci menyangkut hal-hal yang sangat tersembunyi.

Menurut Imam Al-Ghazali, Al-Khabir adalah yang tidak tersembunyi baginya hal-hal yang sama dalam dan yang disembunyikan. Tidak terjadi sesuatupun dalam kerajaan-Nya yang di dunia maupun alam raya kecuali diketahui-Nya. Tidak bergerak atau diam satu butir atom pun, yang tidak bergerak atau tenang satu jiwapun kecuali ada beritanya di sisi Allah.

Allah mengetahui apapun yang di kandung hati atau di simpan oleh pikiran. Bisikan-bisikan nafsu, ajakan-ajakan syetan, khayalan-khayalan pikiran, prasangka-prasangka di hati, rencana-rencana jahat, komentar-komentar dan gumaman hati, semua ada dalam pengetahuan Aallah.

Ada dua tindakan yang dapat dilakukan untuk meneladani asma Al-Khabir ini:

a) menyangkut Hubungan keluar dengan makhluk lain

Kita sadar bahwa pengetahuan kita sangat terbatas, Kita tidak tahu isi hati dan kepala orang lain dan kita pun tidak tahu banyak tentang maksud-maksud di balik penciptaan makhluk di sekitar kita.

Berangkat dari kesadaran ini, maka akhlak yang patut dikembangkan adalah baik sangka! Selalu berbaik sangka kepada Allah dan sesama. Bila kita melihat orang yang cacat, seperti pincang, buta atau lumpuh, janganlah mencela tetapi berbaik sangkalah, karena boleh jadi cacat itu pada fisiknya aja sedangkan bathinnya penuh kemuliaan dan kesempurnaan karena ridho menerima ketentuan Allah.

Bila kita mencela maka kitalah yang sebenarnya cacat. Cacat hati karena tidak mampu melihat hikmah Allah, cacat adab karena merendahkan makhluk Allah dan cacat akhlak karena baru bisa mencela dan tidak mampu berbuat ataupun menolong.

b) menyangkut diri kita sendiri

Pertama, kenalilah jasad ini dan hubungkan dengan kekuasaan Allah. Kedua, kenalilah kekurangan-kekurangan kita dalam segi ilmu, sikap, dan perilaku dan hubungkanlah dengan pengawasan Allah. Ketiga, kenalilah tujuan hidup ini dan selaraskan dengan keinginan Allah.

Bila kita perhatikan jasad ini, maka insyaflah kita dari mana asal kita dan siapakah kita, berasal dari setetes air yang hina, kemana-mana membawa kotoran dan kalau sudah mati menjadi bangkai, itulah jasad ini.

Tidak berdaya bila sudah kena penyakit, bila sudah tua akan mengeriput dan melemah, Tidak ada yang patut disombongkan. Bila kita memperhatikan betapa besar karunia Allah atas tubuh ini, maka Insyaflah kita bahwa keindahan dan kesempurnaan tubuh ini Allah yang membuat. Kekurangan dan kecacatanpun bukan kita yang menghendaki. Ini akan melahirkan rasa terima kasih dan rasa menerima, Sibukkanlah diri melihat kekurangan lalu bekerjalah untuk memperbaiki.

Kita tahu betapa bodohnya kita dan betapa sedikitnya ibadah kita. Yang sedikit itu pun kita rusak dengan tidak khusyu dan kita hancurkan dengan ketidak ikhlasan. Kita seharusnya malu kepada Allah karena kebusukan-kebusukan kita.

Hidup ini untuk akhirat, Awasilah setiap tindakan agar benar-benar diniatkan karena Allah dan selalu berada di jalan Allah. Belajar dari Al-Khabiir membuat kita banyak melihat ke dalam diri dengan waspada dan melihat keluar diri dengan berbaik sangka.

Alhamdulillaahirobbil’alamin.

----------------------------------------------------------------------------
Sumber: Buletin InfoDT Jakarta - No.16/Tahun IV/Oktober 2004
Rangkuman Pengajian Majelis Manajemen Qolbu, Masjid Al-Azhar, Senin 27 September 2004. - Humas DT Jakarta -